Abis baca postingnya mas prayogo yang lagi bingung soal transportasi di jakarta, nemu nih alternatif bagus: Nebeng.com. Hemat, nyaman, mengurangi kemacetan, mengurangi polusi, ga ngantuk, dapet kenalan.
Kalo tulisan di bawah, 100% hasil kopi paste dari tabloid nova
Maraknya Mobil Tebengan
HINDARI 3 IN 1, CARI TEMAN SEKALIGUS HEMAT
Nebeng bukan hal yang baru bagi pekerja kantoran di Jakarta. Banyak tersedia mobil omprengan yang memberi tebengan pada mereka yang berdomisili di luar kota Jakarta. Bisnis ini makin menjamur. Anda pun bisa mengakses internet untuk mencari teman tebengan.
Perempuan yang mengenakan blazer ungu itu tampak sibuk berbicara dengan seseorang di ponselnya. “Kamu jadi nebeng aku, enggak? Jam enam? Di mana? Oke. Aku jemput di situ, ya,” kata perempuan tersebut pada teman bicaranya. Perempuan itu bernama Petrina (41). Ia adalah karyawati yang berkantor di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
Sore itu, sepulang kerja, ia menyetir mobilnya menuju kawasan perkantoran di Jalan Sudirman. “Teman tebengan saya kebetulan hari ini pulang jam 18.00 dan saya jemput dia di kantornya. Sebenarnya pulang kantor jam 17.00 tapi saya enggak keberatan nunggu dia sampai jam 18.00. Daripada di mobil enggak ada teman,” ujar perempuan yang akrab disapa Petrin itu.
Sesampai di sebuah kantor di Jalan Sudirman, naiklah seorang pria bernama Fano (34), yang tak lain adalah teman tebengan Petrin. Sejak awal November silam, Petrin yang tinggal di Serpong memberi tebengan Fano yang berdomisili di BSD. Namun, tak setiap hari mereka bisa pulang bareng. “Fleksibel. Tergantung jadwal masing-masing. Karena saya kerja di marketing, kadang saya pulangnya enggak tentu karena harus ketemu klien,” ujar Petrin.
AGAR TAK NGANTUK
Petrin dan Fano “bertemu” melalui situs www.nebeng.com. Situs tersebut merupakan wadah bagi orang-orang yang ingin memberi tebengan atau menebeng. Setelah mengakses dan mendaftar di situs tersebut, Petrin menelepon beberapa orang yang rute kerjanya sama dengannya, salah satunya Fano.
Memberi tebengan bukan hal baru bagi Petrin. Hal ini telah dijalaninya sejak tiga tahun silam. “Awalnya, ada sekitar lima orang tapi lama-lama habis. Ada yang lalu pakai mobil sendiri, pindah kerja, atau berangkat lebih pagi. Kebanyakan, penebeng saya sih ibu-ibu.”
Tiap pagi, setelah mengantar anaknya sekolah di kawasan BSD, biasanya Petrin menunggu penebengnya. “Kalau mereka bilang mau ikut saya, saya tungguin mereka. Pokoknya sifatnya persahabatan dan fleksibel banget, enggak terpatok waktu. Saya malah yang aktif nelponin penebeng-penebeng saya, mau bareng atau enggak,” jelasnya.
Salah satu pertimbangan Petrin mencari teman tebengan adalah adanya peraturan 3 in 1 (minimal ada tiga penumpang dalam satu mobil pada jam sibuk. Red) yang diberlakukan di sejumlah jalan protokol di Jakarta. Kantornya yang berada di kawasan Kuningan membuat Petrin harus melewati kawasan 3 in 1.
Alasan lain, Petrin butuh teman tebengan untuk menghindari “hobinya”, yaitu mengantuk! “Kalau enggak ada teman ngobrol saat nyetir, saya ngantuk. Apalagi jika jalannya lurus dan lengang. Pernah mobil saya sampai naik ke trototar gara-gara saya nyetir sendiri dan mengantuk. Bahaya, kan?”
Karena itu, Petrin senang jika penebengnya doyan ngobrol. “Seru kalau banyak teman. Ngobrol dan tahu-tahu sampai tujuan. Tetapi pernah juga saya dapat teman tebengan yang juga ngantuk. Saya malah ikutan ngantuk juga. Ha..ha…”
KOMBINASI PRIA-WANITA
Tentang tarif, Petrin tak menetapkannya alias sukarela. Para penebeng pun mesti “tahu diri” dan mengira-ngira berapa kira-kira ongkos perjalanannya. “Dulu, waktu pertama kali ngasih tebengan, orang-orang pada ngasih Rp 2000. Setelah itu, mereka naikin jadi Rp 5000. Mereka sendiri yang naikin, lo. Bukan saya. Sampai saat ini, sih, penebeng rata-rata juga ngasih segitu,” tutur Petrin yang juga sering memberi tebengan teman-teman kantornya.
Banyak kejadian menarik yang dialami Petrin selama memberi tebengan. Ia jadi akrab dengan teman tebengan. Tak jarang, Petrin jalan bareng teman-temannya itu, terutama yang perempuan. “Pernah suatu kali, kami suntuk habis pulang kantor. Nah, karena kebetulan habis gajian, kami pergi makan bakmi rame-rame. Pokoknya kami udah kayak sahabat.”
Dalam memberi tebengan, Petrin biasanya mengombinasikan antara teman tebengan perempuan dan pria. Alasannya, “Kalau ada teman cowok, kan, lebih safe. Apalagi saya yang nyetir. Soal kapasitas mobil, saya batasi hanya untuk sembilan orang. Kalau lebih, saya tolak. Demi kenyamanan penebeng juga.”
Sebelum mencari penebeng dari situs nebeng.com, Petrin sendiri mengaku jarang mengambil tebengan dari pinggir jalan. “Saya pernah nyobain. Tapi mereka yang mau menebeng jadi berebutan. Pintu mobil saya dibanting-banting. Lalu saya pikir, kok enggak cucuk (sepadan. Red). Saya dapat enggak seberapa, mobil malah rusak.”
Petrin melanjutkan, “Sebenarnya, saya kasihan kalau ngeliat ibu-ibu yang lagi hamil, kehujanan di pinggir jalan, dan nyari tebengan. Tapi, kalau saya ngasih tebengan dia, yang lain pasti ikut naik mobil saya. Suami saya juga udah wanti-wanti supaya enggak ambil orang sembarangan, dengan alasan keamanan.”
BISA JALIN KONEKSI
Pemberi tebengan lainnya adalah Frits (38). Karyawan yang bekerja di kawasan Setiabudi ini juga telah lama memberi tebengan. Ketika harga BBM naik, Frits pun makin semangat mencari teman tebengan.
“Alasan saya ngasih tebengan karena menyangkut cost. Dulu, untuk perjalanan jauh, habis sekitar Rp 50 ribu untuk BBM. Kalau sekarang bisa Rp 100 ribu. Istilahnya, pemasukan hanya segitu-segitu aja tapi pengeluaran makin bertambah,” kata Frits.
Seperti Petrin, Frits juga mendapat manfaat dari usaha tebengan ini. Salah satunya adalah networking. “Apalagi saya kerja di bidang marketing. Dengan begini, bisa menjalin koneksi. Misalnya, bisa saja saya menjalin kerja sama dengan Hanny yang kerja di public relations. Sambil menyelam minum air.”
Hanny (22) adalah salah satu penebeng Frits. Karyawati sebuah konsultan public relations ini mengaku belum lama ikut mobil tebengan. Sebelumnya, Hanny yang berdomisili di Bogor, naik kendaraan umum. Dari nebeng.com, Hanny mendapat informasi tentang Frits dan menghubungi pria tersebut.
Menurut Hanny, dia merasa lebih enjoy ikut mobil tebengan. “Selain lebih nyaman, saya juga enggak perlu gonta-ganti kendaraan karena langsung sekali jalan. Ongkosnya juga enggak jauh beda, lagi,” ujar Hanny yang biasa memberi Rp 10 ribu sekali jalan.
Tak takutkah Hanny ketika akan menebeng orang yang belum dikenalnya? “Risiko kan bisa di mana aja. Kita naik taksi juga enggak kenal dengan sopirnya, kan? Awalnya, saya memang banyak tanya ke pemberi tebengan. Misalnya mobilnya apa dan plat nomernya berapa. Lalu saya informasiin ke keluarga saya. Jadi, mereka tahu.”
Lebih lanjut Frits dan Hanny sama-sama mengungkapkan mereka sama-sama diuntungkan dengan tebengan ini. Anda berminat untuk mencoba?
“BOLEH COBA LADIES ONLY”
Situs www.nebeng.com merupakan salah satu situs yang menyediakan jasa mobil tebengan. Dalam situs yang diluncurkan sejak 28 September 2005 tersebut, baik penebeng maupun pemberi tebengan bisa langsung registrasi. Data yang diminta cukup lengkap, yaitu meliputi jenis kelamin, alamat kantor, alamat rumah, alamat email, rute kendaraan, dan nomor kontak.
Ide mendirikan situs ini diluncurkan oleh Rudyanto (31). Semua berawal dari pengalaman pribadinya. Tiap pagi, Rudy yang berdomisili di Karawaci, Tangerang, harus menempuh perjalanan jauh ke kantornya yang ada di Cakung, Jakarta Timur. Dalam perjalanan, Rudy prihatin melihat kemacetan Jakarta.
“Karena macet itu, saya punya ide gimana supaya mobil-mobil bisa dikurangi. Saya lihat, di sekitar saya masih banyak tempat kosong di mobil-mobil tersebut, begitu juga mobil saya. Lalu saya berpikir, kenapa enggak sharing aja? Tetapi saya juga menarik kesimpulan, mungkin mereka sebenarnya mau kasih tebengan tetapi kesulitan mencari teman yang tujuannya sesuai,” kisah Rudy.
Terkadang masalah keamanan jadi hambatan. Inilah yang juga melatarbelakangi Rudy mendirikan nebeng.com. “Kalau ikut mobil omprengan, siapa saja boleh masuk. Tanpa kita sadari, bisa saja ada orang yang berniat jahat masuk mobil itu. Jadi, saya kasih wadah bagi mereka yang berniat menebeng atau memberi tebengan. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar juga jadi pemicu saya mendirikan situs ini,” jelasnya.
Masih menurut Rudy, melalui situs tersebut, penebeng dan pemberi tebengan bisa saling cross check dan berkomunikasi dulu. “Mereka sendiri yang melakukan penyaringan teman tebengan. Bisa saja, seorang pemberi tebengan wanita mencari penebeng wanita dengan alasan keamanan. Atau istilahnya ladies only,” tuturnya.
Menurut Rudy, hingga kini ada sekitar 700 pemberi tebengan dan 3.400 penebeng yang mendaftar. Bila ada yang berniat menebeng atau memberi tebengan, Rudy menyarankan sebaiknya mencari teman yang berasal dari satu daerah. “Jika Anda wanita, ide ladies only juga bisa dicoba.”


30 April 2007 at 7:42
Info yang menarik, saudara saya dulu selalu bingung cari tebengan dari cimanggis depok mo ke menteng….
#
semoga bermanfaat deh, kalo di jakarta mungkin saya juga akan nebeng-nebeng gitu
22 July 2008 at 7:27
kalau dari bogor cibinong ada gak ya tebengan
23 July 2008 at 9:23
Kalau dari limus pratama regency ke HR. Rasuna Said Kuningan ada tidak ya? kalau ada yang punya mobilnya perempuan ya.. mks.
11 September 2008 at 10:02
butuh tumpangan dari larangan (ciledug-tangerang) ke BRI II (PP)…butuh banget oooii. kabar2e okeh
13 November 2008 at 6:42
saya dari sektor 9 Bintaro tiap jam 6.10 am berangkat kerja ke simprug.
Nebeng dong…
Tq.
13 November 2008 at 6:44
nebeng dong
dari bintaro sektor 9 ke simprug.
tq
13 April 2009 at 5:13
dari Permata Bintaro sektor 9 nebeng donk ke Ampera raya (pertigaan Pejaten). Tlg di kbri
tq
17 June 2009 at 1:33
Mau nebeng dari Limus Pratama ke Kuningan Jakarta
23 June 2009 at 3:30
Halo semua.
ada ga yang berangkat dari jakarta menuju bsd pagi hari//
terima kasih..
please sent : jaya_karya1@yahoo.com
13 August 2009 at 10:41
Nebeng dong dari bintaro sektor 9 ke kedoya
23 October 2009 at 6:54
gw kerja di kuningan siap memberi tebengan ke arah kali bata, khususnya untuk cewe