Jin, setan, iblis dan saya

Kalau nggak salah inget, definisi setan adalah segala sesuatu yang sifatnya jelek, bisa jin, manusia atau yang lain. Jin adalah makhluk gaib penghuni dunia lain, diciptakan dari api, memiliki akal dan nafsu, ada yang beriman ada yang kafir, ada yang jahat & baik, seperti manusia. Sedangkan iblis adalah mbah moyangnya jin-jin yang menolak perintah Tuhan waktu disuruh bersujud menghormati Adam.

Nah coz these genie have brain and passion berarti kehidupan mereka mirip kita juga dong, punya tempat tinggal, semacam kampung atau perumahan bahkan pemerintahan juga. Kalau ini mungkin da sering diceritain sama orang dan di film-film ato legenda macem Nyai Roro Kidul yang punya kerajaan di Laut Selatan. Mereka punya tempat tinggal, kampung dan pemerintahan. Kalau tingkat intelegensi mereka seperti manusia dan waktu hidup mereka lebih lama berarti seharusnya peradaban & teknologi mereka lebih maju dari manusia coz alih teknologi antargenerasi bisa diminimalisasi, iya nggak sih?

Menurut rumor, banyak pesulap, dukun, penyihir, bahkan ulama yang menggunakan bantuan bangsa jin. Waktu masih di Jogja saya pernah liat pertunjukan “sulap” di boulevard UGM hari minggu pagi. Saya belum pernah nonton “sulap” live di depan mata sedeket itu. Entah tukang sulapnya yang hebat banget, pake hipnotis atau apa, yang jelas banyak orang yang ngeliat sampe “ndlongop“. Akhirnya tukang sulap itu malah terang-terangan ngomong pake bantuan jin buat bantu atraksi mereka. Dua kali saya nonton pertunjukan itu. Ujung-ujungnya sih dia jual batu akik yang katanya bertuah, hahaha.

Selama ini yang sering diceritain orang-orang cuma memanfaatkan jin buat melakukan hal mistik yang jelek-jelek macem santet, teluh atau … apalagi ya? Kadang-kadang saya kasian sama bangsa jin, kalau masuk tv yang jadi berita pasti jin usil & jahat mulu. Kalau dibuat sinetron ato film kebanyakan yang serem-serem. Ternyata golongan jin yang ini banyak yang bercita-cita jadi seleb. Seingat saya cuma ada dua sinetron tentang jin baik “Tuyul dan Mbak Yul” sama “Jin dan Jun” yang genrenya komedi semua. Ko nggak ada film dokumenter tentang jin ya😀

Pernah nggak sih terlintas kalau misalnya mereka juga punya teknologi kaya’ kita? Kenal sama mobil, HP, komputer dan inet juga gak ya, hihi. Tapi kalau mobil ato pesawat kayaknya nggak perlu kali ya. Masih inget hikayat Nabi Sulaiman dan Jin Ifrit? Jin Ifrit bisa mindahin singgasana Ratu Bulqis dari istana kerajaan Saba ke istana Nabi Sulaiman lebih cepat daripada kedipan mata, wuss… Kenapa ya kok gak ada bussinessman yang kerjasama dengan mereka? Kalau bisa kan asyik banget, pengiriman barang bisa jauh lebih cepat dari pos kilat expres😀 Tapi kalo gitu kenapa kok Nyai Roro Kidul sering diceritain naik kereta kencana? Menurut mitos, Bandung Bondowoso juga make jin untuk membangun Candi Prambanan, bisa nggak kalau sekarang kita minta tolong mereka untuk mbangun rumah misalnya😀

Kalau misalnya peradaban & teknologi mereka perkembangannya kaya manusia, saya juga bingung sama satu hal. Sajen! Dari ratusan taon yang lalu sampe sekarang, yang jadi sajen itu ko ya nggak berubah, jajan pasar, kepala kerbau, ayam cemani, dll (males nyebutin yang lebih serem). Ko gak berubah jadi lebih modern kayak pizza, bandeng presto atau ayam goreng tulang lunak gitu ya?

Satu lagi, bahasa mereka sama dengan bahasa manusia nggak? Misal kalau di Indonesia mereka bisa pake bahasa Indonesia, kalau di Prancis mereka juga pake bahasa Prancis. Dulu saya rombongan sama temen-temen satu kos pernah ikut rukyat di sekitar wilayah Kotagede, Jogja. Waktu jalan pulang ke parkiran motor habis dirukyat, ada seorang pengunjung yang ‘kemasukan’, ngomongnya nggak karuan tapi dalam bahasa indonesia. So ??? Well, kerjasama yang langsung kepikiran di kepala dalam perjalanan pulang dari sana adalah… Minta jin cerdas yang bisa multibahasa supaya jadi translator pribadi! Kan asyik kalau punya translator yang gak keliatan, apalagi kalau honornya jajan pasar, tarif yang sangat terjangkau😀

Saya kasian sama temen saya yang kalo udah malem sampe nggak berani ke kamar mandi sendiri, yang paling cuma berjarak 10 meter dari kamarnya. Padahal nggak keluar dari bangunan utama, ada keluarganya & di situ nggak ada sejarah “penampakan.” Sebuah kisah lucu terjadi waktu saya terpaksa nungguin dia pipis, disuruh agak jauh sih nunggunya. Tebak dimana kamar mandinya! Itu kamar mandi masjid di pinggir jalan Bratang Gede Surabaya yang ramai dan waktu itu kami baru aja selesai sholat dhuhur hehe. Waktu saya tanya, dia berdalih “Kan banyak masjid yang dibangun di atas kuburan, lagian kan sekarang di sini sepi! Mana, nggak ada motor dan mobil yang lewat!” Wah, beruntung sekali dia tanduk saya tidak tumbuh saat itu.

Semoga kita nggak lupa kalau setan itu bukan cuma jin saja, kita (manusia) pun sering kadang menjadi setan juga. Seperti waktu kalau lagi males bangun pagi sehingga nggak telat sholat subuh, waktu ngembat pinjem CD kantor buat keperluan pribadi, waktu liat “file-file 3gp”, waktu … Wah kalau saya sebutin semua bisa jadi posting pengakuan dosa.

Betapa terlalu seringnya saya telah menjelma menjadi setan. Sedih dan ironisnya, kita sering sadar sepenuhnya saat menjadi setan, kadang bangga karena telah berhasil menjadi setan, seperti saat menceritakan kepada seorang teman bahwa saya sudah diajari teman lain gimana cara memanipulasi laporan perjalanan dinas. Bahkan kadang kita bangga telah menjadi agen setan, mengajak orang lain supaya jadi setan juga, seperti saat ikut mendistribusikan “file-file 3gp”. Hmm, kenapa menjadi setan itu menyenangkan?

Kembali ke laap… topik, jadi kalau sebenarnya kita sudah sering berhasil senang bisa menjadi setan seharusnya kita tidak terlalu takut kepada setan lagi kan? Sesama setan kan tidak boleh saling mendahului menakuti.

Dalam agama, kita memang sudah diwanti-wanti bahwa banyak hal di alam gaib itu berada di luar batas pikiran manusia tetapi kita wajib meyakini bahwa dunia lain itu ada. Kata saudara saya, mikirin dunia lain itu kayak semut di Jakarta pengen ke Paris. Walopun sebenernya bisa, dalam otak semut hal kayak gitu itu gak pernah terpikirkan. Well, it’s just another point of view karena saya dah sebel sama banyaknya acara & film-film setan di sini. Sebenernya tulisan ini adalah modif dari tulisan lama, jadi tertarik untuk memposting setelah melihat sepotong iklan acara lucuan-lucuan tentang setan di TV7 (?). Jadwalnya maennya kapan ya? Semoga bisa jadi acara alternatif tentang dunia persetanan. Semoga teman pipis temen yang nyuruh saya nungguin dia pipis itu membaca tulisan ini hehe.

Well, tentu saja di antara bloggerian tidak ada yang lebih mengetahui tentang setan, jin dan iblis selain Sang Raja Iblis tentunya. Baginda Raja Iblis, kenapa Baginda begitu tega kepada kami manusia? Hamba tahu jika Baginda ingin menjadikan kami sebagai teman tetapi kami tidak ingin menjadi teman Baginda … di neraka😀

3 Responses to “Jin, setan, iblis dan saya”

  1. ambasrowirds Says:

    assalamu’alaikum wr.wb.good and khoir.wass.wr wb.

  2. Chajatullah Romas Says:

    JIN IBLIS DAN SETAN MEMANG BUKAN MAKHLUK HALUS / GAIB TAPI NYATA SEPERTI KITA-KITA INI.SELAIN KETURUNAN ARAB-ISRAEL SEMUANYA BANGSA JIN. PENJELASANNYA ADA DI BLOG SAYA DR ROMAS IDEA DG DALIL2 AQLI DAN NAQLI

  3. Juan Says:

    My dad emailed me the link for this article. Great stuff!
    🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: